RAKUS DUNIA

0 komentar

Dikisahkan....seekor anjing yang sangat rakus. Dengan tubuhnya yang besar dan gigi taringnya yang tajam, ditambah suaranya yang nyaring, si Rakus ini menjadi raja jalanan.

Sudah banyak korban sesama anjing yang direbut makanannya oleh si rakus. Kerap makanan dimulutnya belum habis, si rakus merebut paksa makanan dari anjing lainnya.

Suatu hari ia kelaparan, jalanan sepi, hanya angin semilir yang mengelus elus perutnya yang kempes. Setelah mondar mandir ke berbagai arah dengan jarak tempuh yang jauh, akhirnya ia temukan sepotong daging, mungkin agak basi sisa makanan manusia yang dibuang ke tempat sampah. “ah....daripada tidak ada”, kata si Rakus.

Berjalan melewati sungai dengan jembatan bambu yang kecil. Ketika ia melihat kebawah, ia temukan sepotong daging segar sedang digigit seekor anjing besar. Ia lompat untuk merebut makanan yang digigit anjing tadi, mungkin si rakus tertarik oleh segarnya daging yang dibawa anjing lain..

Tak disangka ternyata, yang diterkam si Rakus adalah bayangan dirinya sendiri yang dipantulkan air bening sungai kecil. Badannya basah kuyup, daging yang digigitnya hanyut oleh arus sungai dan nyawanya terancam. Susah payah rupanya si Rakus keluar dari kemelut maut. Walau akhirnya berhasil juga ia naik ke darat dengan nafas yang terengah engah.
Berjalan lunglai tanpa tenaga, dengan perutnya yang semakin lapar. Oh kasihan.

(cerita disadur dari Kitab “Bahrul Adab”)

Tentu saja cerita itu adalah fiktif. Namun ada pesan mulia yang termuat dibalik cerita itu:

Pesona dunia itu sangat menipu, fatamorgana dan nisbi

Firman Allah SWT berikut ini: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid [57]:20)


Pesona dunia membuat penikmatnya mencandu, bertobatlah dari candu khayal duniawi.

Rasulullah saw bersabda, "Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas pasti ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa yang bertaubat." (Bukhari - Muslim)

Kerakusan pada dunia berakibat mencelakakan diri sendiri. 

Rasulullah saw berikut ini: “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)

RAKUS DUNIA 

oleh: m iman taufiqurrahman


selengkapnya →

ISLAM Bukan Sekedar Agama

0 komentar

Islam adalah nama (ismun), nama bagi suatu “Dien” seperti dalam firman Allah: “Warhoditu Lakumul Islaama Diina…” (dan kuridhai bagimu Islam sebagai Dien) (QS 5/3).

Al-Islam itu sendiri diambil dari bahasa arab yang memiliki arti: Aslama (tunduk/ menyerah), Assalaam (menyelamatkan), Assilmu (damai) dan assulaam (tangga). Dengan demikian maka Dinul Islam adalah Dien yang berporos pada kepasrahan hamba kepada Allah, yang dengan ketundukannya manusia akan menemukan ketentraman jiwa, ketinggian derajat dan keselamatan jiwa raga, dunia dan akhirat.

 
Karena Islam itu adalah Dien, maka sangat pentinglah kita membongkar makna / pengertian Ad-Dien itu, sehingga kita dapat dengan persis memahami apa itu Islam.

Ad-Dien dalam padanan bahasa Indonesia diartikan dengan istilah AGAMA. Pengalihan dari terminology “Dien” kepada term “AGAMA” tidaklah semuanya tepat. Sebab Agama (terutama) dalam pengertian yang berkembang dimasyarakat adalah suatu tata aturan kepercayaan dan hubungan dengan Tuhan / Dewa, sperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia.

Tentusaja sangat keliru dan mengandung potensi menyesatkan jika Dien diartikan hanya sebatas “Kepercayaan” dan hubungannya dengan Tuhan. Mari kita periksa maksud Allah didalam Al-Qur’an.

Didalam Qur’an, term DIEN digunakan dalam beberapa penggunaan:
  1. Undang-Undang (hukum / aturan) Kerajaan, dalam QS 12/76. Dalam ayat itu disebut “Diinil Maliki” yang artinya Undang-undang kerajaan. Lihat juga Qs 24/2, 42/13, 24 dll.
  2. Kekuasaan, dalam QS 56/86-87. Dalam ayat itu disebut “Madiiniin” yang artinya KEKUASAAN. 
  3. Ketaatan, dalam QS 98/5. Dalam ayat itu ad-dien diartikan Ketaatan.
  4. Pembalasan / sangsi, dalam QS 1/4. Dalam ayat itu Addien diartikan pembalasan / sangsi.

Dari pengertian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa dien adalah SUATU SISTEM KEHIDUPAN YANG DIDALAMNYA TERDAPAT SISTEM HUKUM, SISTEM KEKUASAAN (PEMERINTAHAN) DAN SISTEM KETAATAN MASYARAKAT (SISTEM KEMASYARAKATAN), YANG MANA SISTEM HIDUP ITU MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MEMAKSA MASYARAKAT YANG ADA DIDALAMNYA UNTUK TAAT KARENA JIKA TIDAK PASTI AKAN MENDAPAT SANGSI.

Sistem kehidupan yang terdiri dari Sistem Hukum, Sistem Pemerintahan dan Sistem ketaatan itu, zaman sekarang lebih dekat dengan pengertian “state” (Negara). Sebab Negara itu memiliki ketiga unsur Dien seperti yang diungkapkan Qur’an. Dan Negara adalah Institusi social yang bersifat memaksa dan dapat memberi sangsi kepada rakyatnya, jika melanggar aturan.

Al-Qur’an menjelaskan lebih visual tentang Dien ini dengan kisah Fir’aun (QS 40/26-29). Kerajaan Fir’aun sebagai system pemerintahan dinegeri Mesir ketakutan akan gerakan Nabi Musa As yang dikuatirkan akan membuat revolusi bagi “Dien” (system hidup) mereka dengan Dien yang dibawa oleh Nabi Musa. Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar DIEN-MU atau menimbulkan kerusakan di muka bumi".. (40/26).
Apa yang dikuatirkan oleh Raja Fir’aun,  bukanlah isapan jempol. Sebab sebelumnya Nabi Musa memproklamirkan “KERAJAAN”.

Tentu saja kerajaan yang didirikan Musa adalah kerajaan Islam. “(Musa berkata): "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita! Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar".. (40/29).

Berdasar QS 40 ayat 26 dan 29, Fir’aun adalah Raja bagi kerajaan Mesir dan Qur’an menyebutnya " Dien-nya Fir’aun".  Nabi Musa adalah Raja bagi kerajaan Islam dan Qur’an menyebut sebagai "Dien" yang akan dimenangkan Musa diatas Dien-nya Fir’aun.


Disini nampaklah secara visual makna Dien yang dimaksud Al-Qur’an yaitu system hidup,  yang pada masa Nabi Musa di nampakan adanya dua system Hidup, yaitu KERAJAAN MESIR yang dipimpin oleh Fir’aun dan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Nabi Musa.

Tentu saja diwilayah yang sama tidak mungkin ada dua kerajaan kecuali yang satu sudah mapan (merdeka) dan yang satunya sedang BERJUANG (terjajah), negara yang belum memiliki wilayah yang dikuasai secara de facto.  Kalau zaman sekarang (mungkin) istilah "Dien" sepadan dengan istilah Negara seperti amerika, Inggris, Arab Saudi dan lain-lain.  ISLAM adalah Dien, tidak dapat dibandingkan dengan agama Kristen, agama Yahudi, kecuali dengan kerajaan kristen, kerajaan Yahudi, negara sekuler dan lain lain.

Sangatlah tidak sepadan jika istilah Dien dipadankan (dalam bahasa Indonesia) dengan pengertian agama.

Dien Islam berarti system hidup Islam yang wujudnya adalah Kerajaan / Negara yang bersumberhukumkan Al-Qur’an. Kesimpulannya:
  • ISLAM adalah nama bagi suatu Dien Dien adalah sistem hidup yang divisualkan oleh Allah dalam Qur'an seperti KERAJAAN FIR'AUN
  • Kerajaan / negara adalah wujud Ad-Dien,  bisa dalam pengertian Negara yang sudah berkuasa secara de facto seperti kerajaan Fir'aun atau bisa juga Negara yang sedang berjuang seperti Kerajaan Musa
  • Kerajaan Fir'aun adalah Dinul Bathil karena tidak bersumber hukum Kitab Allah, sementara Kerajaan Musa adalah Dinul Haq karena bersumber hukumkan KITAB ALLAH
  • ISLAM adalah Dinul Haq 
*Pengantar Dinul Islam  No. 2*

selengkapnya →

ISLAM: Dien Wahidun

0 komentar

Para Rasul itu sama dan tidak boleh dibedakan satu sama yang lainnya (QS 4/152, 2/136, 285, 3/84). Para Rasul semua membawa Huda (Kitab Allah) dan Din Haq (Islam) (QS 9/33, 48/28)

Beberapa keterangan Dien yang dibawa oleh Para rasul:



Nabi Nuh a.s. berkata:  … dan aku disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).(Yunus: 72)

Nabi Ibrahim dan Isma’il. Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu (muslim)…. (Al-Baqarah: 128).

Nabi Ya’qub mewasiatkan ISLAM kepada anak-anaknya. Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaaan tetap memeluk agama Islam.(Al-Baqarah: 132).

Nabi Musa a.s. member nasihat  kepada para pengikutnya. … maka hendaklah hanya kepada-Nya kamu bertawakal jika kamu benar-benar muslim (orang yang berserah diri kepada-Nya).

Nabi Yusuf a.s. sangat berharap mati dalam keadaan Islam. … wafatkanlah aku sebagai seorang muslim, dan gabungkan aku bersama orang-orang yang shalih. (Yusuf: 10).

Hawariyin (pengikut setia Nabi Isa a.s.) pun menegaskan identitas keimanan mereka sebagai orang Islam. Kami beriman kepada Allah dan kami bersaksi sesungguhnya kami adalah muslim (orang-orang yang berserah diri). (Ali Imran: 52).

Ratu Saba’ berkata: Wa aslamtu ma’a Sulaiman lillahi rabbil alamiin “… dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (An-Naml: 44)

Rasulullah Muhammad saw. menegaskan bahwa Dien para nabi dan rasul adalah satu: Islam. Nabi-nabi itu bersaudara lain ibu. Ibunya berbeda-beda, tetapi Diennya  satu, begitu kata beliau.

Intinya seluruh Para Rasul membawa misi mentegakan Dinul Islam,  Dia telah mensyariatkan agama kepadamu, sebagaimana yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan yang telah diwahyukan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu bercerai-berai di dalamnya…. (Asy-Syura: 13)..

INILAH MAKNA AL-ISLAMU DIENUN WAHIDUN (ISLAM ITU DIEN YANG SATU), DIEN SATU-SATUNYA YANG DIBAWA OLEH PARA RASUL.
*Pengantar Dinul Islam   no. 01*

selengkapnya →

FITRAH MANUSIA

0 komentar

~ Pengertian fitrah ~

Fitrah adalah bahasa arab, yang arti asalnya adalah “menciptakan”, seperti dalam QS 35:1, disana Allah sebagai “FAATIRU samawati wal ardhi” (Pencipta langit dan bumi).

Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzhur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti (Al-Ibtida wal ikhtiro / memulai dan mencipta). Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa FITRAH adalah penciptaan awal atau asal kejadian. FITRAH adalah kondisi "default factory setting", suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Sebagai ilustrasi misalnya suatu barang, sebut saja “gelas”. Gelas pada awalnya diciptakan (dibuat) dengan tujuan sebagai alat minum, maka fitrah-nya gelas adalah sebagai alat minum. Si pembuat gelas (pabrik) pasti telah memilih bahan, proses dan desain produknya sesuai dengan tujuan ia membuatnya. Oleh karena itu maka gelas itu sangat cocok dan pas dipakai sebagai alat minum karena sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah gelas itu bisa dipakai sebagai alat mandi?. Jawabnya tentu bisa. Tetapi yang perlu diperhatikan, pasti tidak nyaman memakainya dan si gelas itu akan cepat rusak.

~ Fitrah manusia ~

Allah telah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi Hamba Allah yang pandai mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Allah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Mushowwir (Pendesain) , pasti telah mendesain penciptaan manusia baik dari bahan dan prosesnya, sedemikian rupa agar hasil akhirnya lahir suatu makhluk manusia yang bisa mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Jadi fitrahnya manusia adalah mengabdi ataui beribadah kepada Allah SWT.

Karena fitrahnya manusia adalah mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT, maka manusia dengan struktur jasmani dan rohaninya pasti bisa dipakai untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah. Rohani dan jasmani manusia pasti cocok dan pas dipakai untuk
beribadah. Sebaliknya jika dipakai maksiat (membangkang) kepada Allah pasti tidak nyaman, dan dipastikan pasti bakal cepat rusak dan celaka. Sungguh kecelakaan manusia adalah karena penyimpangan dari “FITRAHNYA”.

Seandainya manusia telah lama dan jauh menyimpang dari fitrahnya maka kadang manusia telah merasa nyaman dengan kemaksiatan. Tetapi yang perlu dicatat itu hanyalah sementara karena pada ujungnya pasti bakal rusak / celaka karena penyimpangan dari fitrahnya. Firman allah: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)

By: M Iman Taufiqurrahman

selengkapnya →

PESAN KEMERDEKAAN ANBIYA

0 komentar

"Dan[ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlahni'mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dandijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yangbelum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yanglain". (QS 5/20)

Musa AS sebagai Nabi Revolusioner memperingatkan Ummat Islam Bani Israil akan tigahal yang merupakan keharusan sejarah, sejarah untuk meraih kemerdekaan ummatislam dan meraih mardhatillah.

1.HADIRNYA PARA NABI
2.TERAIHNYA KEMERDEKAAN
3.SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH

[1] HADIRNYA PARA NABI

NabiMusa AS mengingatkan Ummatnya akan pentingnya kehadiran para Nabi. Karena paraNabi adalah "pembawa berita besar" (naba'un adzhiem), yaitu berita besarrevolusi. Berita besar revolusi itu adalah kabar paling menggegerkan para elitpolitik di suatu negri.

Seperti proklamasi risalah Nabi Muhammad SAW di bukit shofa (tahun ke-3 Nubuwwah) (QS 7/158), berita besar itu langsung mendapat reaksi negative dari penguasa NEGARA HIJAZ dengan mengeluarkan pernyataan resmi "TABBA LAKA YA MUHAMMAD" (Celaka engkau wahai Muhammad!). Pernyatan itu dikeluarkan langsung oleh pemimpin tertinggi Negara Hijaz yaitu AbuLahab (QS Al-lahab). Sebuah pernyataan resmi Negara Hijaz yang menyatakan bahwaMuhammad dan pengikutnya adalah Musuh Negara, bahwa gerakan Muhammad adalahin konstitusional dan makar.

Seperti reaksi Rezim Fir'aun terhadap Musa AS yang kemudian mengeluarkan pernyataan resmi kenegaraan "DARUUNI AQTUL MUSA" (Biarkan aku bunuh Musa) (QS 40/26). Ituterjadi karena Fir'aun ketakutan oleh gerakan perubahan Musa yang langsung melakukan perubahan pada Sistem Hidupnya (Din). INI semua dimulai dengan Proklamasi oleh N Musa dihadapan kaumnya , yaitu proklamasi "DZAHIRNYA AL-MULKU" (berdirinya kerajaan), yakni kerajaan yang dipimpin Musa AS (QS 40/29)
Setelah"BERITA BESAR" itu dikumandangkan, maka para Nabi itu kemudian "MENGOBARKAN SEMANGATBERPERANG" kepada ummat (QS 8/65). Yaitu Perang untuk menegakan DIN ALLAH (QS 2/193),perang melawan kekuatan Penjajah ummat manusia (QS 20/24). Jadilah para Nabi sebagai tokoh revolusioner yang akan membebaskan manusia dari segala rantai penjajahan yang membelenggu (QS 7/157).

Ummat Islam pasti akan mencapai kemerdekaannya jika mau memuliakannya,menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (AlQur'an) (QS 7/157)

Tentu saja Nabi pada Zamannya kini adalah "WAROTSATUL ANBIYA" (pewaris jiwa Anbiya) yaitu ulama. Ulama adalah manusia yang TAKUT KEPADA ALLAH (QS Fathir: 29). Ulamayang hanya takut kepada Allah SWT dan tidak takut kepada manusia.
Ulama pewaris anbiya adalah pembawa berita besar revolusioner dan pengobar semangat ummat untuk bangkit dan berjuang. Seperti Thalut yang mewarisi semangat revolusioner Nabi Syamil, untuk melawan PENJAJAH ZALUTH (QS 2/243).

Adanya 'Nabi zamannya' sebagai penggelora semangat REVOLUSIONER dan adanya ummat yang setia mengikuti jalan terjal perjuangan menuju kemerdekaan adalah prasyarat mutlak teraihnya kemerdekaan (QS 7/157)

[2] TERAIHNYA KEMERDEKAAN

NabiMusa As mengingatkan Ummat Islam Bani Israel bahwa, KEMERDEKAAN itu bukan hanyaterusirnya anasir anasir asing dari suatu negri, tetapi Ummat ISLAM memilikiMULKU "Kerajaan / negri" yang berdaulat kedalam dan keluar.


Dalam QS 24/55 diistilahkan dengan "LAYASTAKHLIFANNAHUM fil ardhi" (pasti mereka berdaulat penuh DI SUATU NEGRI).

NABI MUSA bukan hanya hendak membebaskan Bani Israel dari penjajahan Fir'aun, tetapi terbebasnya Bani Israel dari penjajahan Fir'aun akan dijadikan JEMBATAN EMAS menuju KEMERDEKAAN UMMAT ISLAM, yaitu ummat Islam merdeka berdaulat mengatur negrinya sendiri berdasar (I'tishom) kepada KITAB ALLAH (QS 3/103).

[3] SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH

NABIMUSA AS juga mengingatkan bahwa kesempurnaan Nikmat Allah SWT hanya akan dapatdinikmati jika Ummat Islam Sudah berkuasa (MERDEKA).

Nikmatpasca kemerdekaan itu adalah:

(1) Din (hukum) Islam Tegak ,
(2) Ummat IslamBebas beribadah atau mengaktualisasikan keislamannya tanpa ada yang menghalangi
(3) Dirubahnya rasa takut menjadi aman sentausa, atau lahirlah suatu kondisi "gemahripah repeh rapih, tata tengtrem kerta raharja", suatu kondisi masyarakat yangadil dan makmur dan diridhai Allah (QS 24/55)

By: M Iman Taufiqurrahman

selengkapnya →

LAA ILAAHA ILLALLAH

3 komentar

Firman Allah SWT: Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS. 47:19)

Wazir Abu Mudzaffar dalam kitabnya Al-Ifsoh berkata: “SYAHADAT [PERSAKSIAN] “Laa Ilaaha Illallah” (TIADA TUHAN SELAIN ALLAH) , MENUNTUT KEPADA YANG BERSAKSI UNTUK MENGILMUI MAKNA “Laa Ilaaha Illallah” INI, SEBAGAIMANA FIRMAN ALLAH DALAM qs 47:19. [1]

“LAA ILAAHA ILLALLAH” adalah “kalimah Tauhid” yang menjadi dasar tegaknya aqidah seorang muslim. Ia juga merupakan “kalimah Toyyibah” (kalimah yang baik) [QS 14:26]. Seperti “pohon yang baik”, Yaitu kalimah yang akarnya kuat menghunjam kedalam bumi dan batangnya menjulang tinggi kelangit serta senantiasa berbuah setiap musim.

MAKNA ILAH

“ILAH” berasal dari akar kata “aliha – Ya’luhu – Ilaahan”, artinya kecenderungan terhadap sesuatu. “ILAH” secara semantiq (bahasa) dapat berarti kecenderungan dan kerinduan seseorang kepada sesuatu yang ia cintai, dengan suatu harapan mendapat pertolongan dan perlindungan darinya dengan melakukan pengabdian untuknya”. [2]

Ibnu taimiyyah berkata: “AL_ILAH” artinya adalah “Al-Ma’bud”(yang di Ibadahi) Al-Muthoi (yang ditaati). Karena sesungghnya Al-Illah itu Ma’luh (yang dianggap Tuhan) dan Ma’luh itu yang berhaq di Ibadahi. Dia harus bersifat dengan sifat-sifat yang semestinya, yaitu dicintai dengan puncak kecintaan dan di taati dengan puncak ketaatan”.(3)

Abu Abdillah Al-Qurthubi menafsirkan Laa ilaaha illallah dengan “Laa Ma’buda Illa Huwa” (Tidak ada yang diIbadahi selain Dia)(4)

Ibnu Qoyyim berkata:” Al-Ilaah yaitu dimana hati merasa merendah kepada-Nya dalam bentuk Mahabbah (kecintaan) , Mengagungkan, memohon pertolongan, memuliakan, membesarkan, tunduk, takut, mengharap dan Tawakkal”(5)

Az-Zamakhsyari berkata: “ Al-Illah termasuk dari isim Ajnas (nama jenis), seperti manusia dan kuda. (dimana Al-Illah itu) digunakan untuk nama semua Ma’bud (yang di Ibadahi) baik terhadap (Illah) yang benar maupun yang Bathil, namun (penggunaannya) terkenal untuk Ma’bud yang benar”[6]. Jadi pada intinya, para ulama sepakat mengartikan “Illah” dengan pengertian “Ma’bud” (yang di Ibadahi). Ini Artinya, Al-Illah adalah objek pengabdian (Ibadah) dan darma Bakti manusia, dan Alloh adalah Ilahul Haq (Illah yang sebenar-benarnya) dan Ilahul Wahhid (Illah yang Esa). Hal ini sesuai dengan konsep Laa ilaaha illalloh (tiada ilah / Tuhan selain Alloh).

Karena Al-Illah adalah Al-Ma’bud (yang di Ibadahi), dan menurut ibnu katsir ibadah itu meliputi 3 hal, yakni berkumpulnya 3 kesempurnaan: (1).Kaamalul Mahabah (kesempurnaan kecintaan, (2). Kaamalul Khudlu’ (kesempurnaan ketundukan-kepatuhan), (3) Kaamalul Tadzallul (kesempurnaan rasa rendah diri) konsekwensinya: kemana tiga kesempurnaan sikap itu diarahkan, kesitulah dia ber-Illah (Tuhan).

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLOH
Dalam kalimat Laa ilaaha illalloh, terkandung dua makna penting[8]:
1. Nafi (penolakan) seluruh bentuk Uluhiyyah (hak pengabdian) dari selain Alloh
2. Itsbat (menetapkan) Uluhiyyah (hak pengabdian Hamba) bagi Alloh yang Esa.

Musyahid (yang bersaksi) bahwa “ Tiada Ilah selain Alloh” dituntut untuk berani mengatakan “Tidak” terhadap segala bentuk Ilah (Tuhan) selain Alloh, dalam arti menolak, mengkufuri dan tidak mau kompromi terhadap segala bentuk Ilah (Tuhan) selain Alloh.

Dan dalam waktu yang bersamaan ia dituntut untuk berani mengatakan “Ya” terhadap Alloh, dalam arti siap setia, taat dan mengabdi hanya pada Alloh.

Firman Alloh SWT: “ Dan Kami telah utus pada setiap ummat seorang Rosul agar mereka beribadah (mengabdi) kepada Alloh dan menjauhi thoguth” (Q.S: 16:36)

Pengabdian Total (Q.S: 15:99) dan murni hanya pada Alloh (QS 39:2, 4:36), adalah bukti nyata pengamalan Laa ilaaha illalloh.

Kalimat tauhid ini dimulai dengan ungkapan “Laa” yang artinya “Tidak” dengan tiga muatan makna essensial yang terkandung dalam ungkapan “Laa” (Tidak) terhadap segala bentuk Ilah (Tuhan) selain Alloh, yaitu:
1. Nafy (menolak), tidak mengakui ilah selain Alloh, bahwa Alloh saja yang benar yang lain tidak (QS 31:30), maka turunannya hanya hokum / undang-undang Alloh yang haq (benar) dan diakui, selain itu tidak (QS 5:49-50)
2. Barro (berlepas diri), tidak ikut serta dalam tatanan peraturan atau system (prodak) ilah selain Alloh (60:4)
3. Shodama (siap menghancurkan), tidak bershabat dan tidak mau kompromi dengan segala bentuk Ilah selain Allah (60:4)

Kalimat tauhid ini juga dipungkasi dengan ungkapan “Illa” yang artinya”Hanya”, dengan tiga muatan makna essensial yang terkandung dalam ungkapan “Illa”, Hanya Alloh satu-satunya Ilah yang Haq (benar), yaitu:
1. Mahabbah, cinta sejati sepenuh jiwa kepada Alloh SWT (QS 2:165)
2. Khudlu, Tunduk patuh setia pada titah perintah Alloh SWT (QS 33:36)
3. Tadzallul, Berendah diri tiada arti dihadapan Alloh SWT semata
LOYALITAS DAN INDEPENDENSI

Salah satu konsekwensi dari Laa ilaaha illalloh (tauhid) adalah menegakkan Loyalitas (al-Wala’) dan independensi (Al-Barro). Kekeliruan menempatkan loyalitas dan independensi, dalam analisa tauhid akan sangat patal kejadiannya, bisa-bisa ia berada diluar jalur ke tauhidan.

Konsep Al-Wala’ (loyalitas) dan Barro (independensi) adalah suatu konsep terpenting dalam ajaran Islam yang wujud dari konsekwensi Laa ilaaha illalloh. Dimana konsep ini merupakan salah satu ciri khas Aqidah Islam. Tidak sempurna aqidahnya kecuali dengan menegakkan Al-Wala’ Wal Barro.

Dari segi bahasa Al-Wala’ artinya adalah kecintaan, kedekatan, setia, memprioritaskan dan membela (menolong), atau dalam kata lain dapat diartikan dalam satu kata, yaitu “Loyalitas”.

Sementara Al-Barro dari segi bahasa bermakna Kebencian, jauh dan permusuhan atau kita ringkaskan dalam arti satu kata yaitu”Independensi”(pemutusan hubungan / berlepas diri).

Al-Wala’ (loyalitas) bagi seorang muslim hanya berhak diarahkan kepada Alloh, Rosul-Nya dan orang yang beriman yang menegakkan Sholat, mengeluarkan Zakat serta ia tunduk patuh pada Alloh (QS 5:55).

Sementara Al-Barro bagi seorang muslim wajib diarahkan kepada segala bentuk ilah selain Alloh dan kepada orang-orang kafir, musyrik dan munafiq (QS 60:4)

Haram hukumnya bagi seorang muslim mengarahkan wala’nya kepada non muslim dan musuh-musuh Alloh, tindakan seperti ini akan merusak aqidah dan cenderung membawa pelakunya kearah kemurtadan.

Adapun bentuk Muwallah (kerjasama) yang haram dilakukan seorang muslim terhadap non muslim diantaranya[9]:
1. Mengangkat orang-orang kafir-musrik dan munafik sebagai pemimpin (QS 9:23, 5:51, 5:57)
2. Memberikan ketaatan, bantuan, pertolongan dan ikatan penuh (seumur hidup) dengan orang-orang kafir (QS 59:11). Termasuk kedalam Wala’ jenis ini ialah tindakan politisi yang mendukung, mengangkat dan membela orang kafir, musyrik dan munafik, baik sebagai individu, kelompok atau partai. Juga termasuk dalam kategori ini, tindakan orang-orang yang menjadi anggota atau simpatisan yang mendukung dan setuju pada suatu partai, organisasi atau lembaga sesat yang tegak diatas landasan selain Islam.
3. Menyampaikan rahasia orang-orang mu’min kepada orang-orang kafir (QS 60:1)
4. Cinta dan berkasih sayang terhadap Orang Kafir (QS 58:22), artinya lebih memprioritaskan kepentingan pihak musuh Alloh dari pada kepentingan kaum Mu’min.
5. Duduk semajelis dengan orang kafir dan munafiq dengan kerelaan, dan mendengarkan percakapannya yang memperolok Al-Qur’an, serta berada tetap dalam Majelis tersebut tanpa membantah atau menampakkan kemurkaan, atau keluar dari Majelis tersebut (QS 4:140)
6. Ketaatan kepada orang kafir baik secara individu maupun organisasinya(QS 33:48, 68:8-15, 18:28, 26:151-152)
7. Tasyabbuh, meniru atau menyerupai orang kafir dalam bidang aqidah dan ibadah (QS Al-Kaafiruun). Sabda Rosululloh SAW:”Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum itu” (HR Ahmad, Abu Daud dan Thobroni).
8. Menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia (QS 3:118)
9. Berhukum memakai hukum dan undang-undang Orang-orang kafir yang tidak merupakan hukum Alloh (QS 4:51, 2:101-102)
__________________________
___
1. FATHUL MAJID (hlm. 52)
2. Meluruskan Tauhid (hlm. 53)
3. Fathul Majid (hlm. 53)
4,5,6, Meluruskan Tauhid (hlm. 53)
7. Tafsir Ibnu Katsir (hlm. 24)
8. Kitabu Qaulu Sadied (hlm. 37)
9. a- Al-Wala
b- Majalah Al-Muslimun

selengkapnya →

SELAMATKAN BUMI

0 komentar

Manusia dengan bumi ini terikat oleh ikatan kuat sunnatullah. Sudah sunnatullah (ketetapan Allah) bahwa bumi ini disediakan (diciptakan) oleh Allah untuk kepentingan manusia, “kholaqo lakum Maa Fil Ardhi Jami’an” (Allah cipatakan segala apa yang ada dimuka bumi ini untuk manusia). Firman Allah SWT : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di BUMI untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “(QS. 2:29). Oleh karena itu manusia dipersilahkan oleh Allah untuk memanfaatkan segala kandungan bumi ini selama dihalalkan oleh Allah. Firman Allah: “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di BUMI dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2:168)

Allah juga telah mendesain bumi ini agar cocok didiami oleh manusia. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka BUMI dan Kami adakan bagimu di muka BUMI itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. 7:10).

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan BUMI dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. 14:32)

Dan Kami telah menghamparkan BUMI dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (QS. 15:19)

Dan Kami telah menjadikan untukmu di BUMI keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. (QS. 15:20) Lihat juga QS 16:13-15, 20:53, 21:31, 22:65, 27:61, 40:64, 43:10, 45:13, 50:7, 51:48, 54:12, 55:10, 71:19-20, dan 78:6

Ayat-ayat diatas dengan jelas menunjukan bahwa BUMI ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia dan telah mendesain bumi ini menjadi tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal bagi manusia.

Allah berfirman: Di BUMI itu kamu hidup dan di di BUMI itu kamu mati, dan dari BUMI itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dari BUMI (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. 20:55)

~ Jangan Rusak Bumi ini ! ~

Yang perlu dicatat: JANGAN RUSAK BUMI INI!.

Jadi walaupun bumi ini di sediakan oleh Allah untuk tinggal dan hidupnya manusia, tetapi Allah mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi ini. Firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka BUMI, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. 7:56)

Sumber kerusakan dimuka bumi ini adalah kekuasaan yang kafir dan nifaq terhadap hukum Allah SWT, Firman Allah SWT: Maka apakah kiranya jika kamu BERKUASA kamu akan membuat kerusakan dimuka BUMI dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. 47:22)

Seperti halnya kekuasaan (pemerintahan) Fir’aun dahulu, firman Allah SWT: Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka BUMI dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:4)

ebenarnya setiap unsur masyarakat baik rakyat maupun pemerintahan berkewajiban mewujudkan ketertiban, kedamaiaan, kesejahteraan dan kebaikan. Tetapi Negara (state) adalah institusi yang dibentuk untuk mencapai tujuan bersama masyarakat, yaitu ketertiban, kedamaian dll. Sementara itu rakyat dituntut tunduk kepada hukum Negara.

Mengapa jika masyarakat diatur oleh kekuasaan kafir ini akan melahirkan kerusakan (fasad) di muka bumi?. Jawabanya :

Karena kekuasaan kafir / nifaq ini pasti akan memberlakukan hukum Jahiliyyah (5:50), yaitu hukum produk ra’yu (rasio) manusia. Padahal kita tahu bahwa manusia itu bodoh (tidak tahu apa-apa) dibanding Allah yang menciptakannya. Sebenarnya manusia itu tidak tahu (lam ya’lam) apa yang terbaik dan terburuk bagi dirinya sendiri, alam dan kehidupan. Hanya Allah-lah yang tahu betul (Al-Aliem) apa yang terbaik dan terburuk bagi dirinya, alam dan kehidupan. Oleh kjarena itu Hanya Allahlah yang berhak mengajari manusia atas apa yang baik dan buruk serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia (96:1-5). Dan Allah akan mengajari manusia dengan Al-Qur’an (55:1-4). Ini artinya hanya hukum Allah (syari’at) yang akan menjadi hukum yang tepat untuk mengatur dan mentertibkan kehidupan manusia di bumi ini.

~ Manusia Untuk Bumi ~


Karena bumi ini tidak boleh dirusak, maka Allah wariskan bumi ini hanya kepada hamba-hamba Allah yang shaleh, firman Allah: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya BUMI ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. 21:105)

Bumi diciptakan oleh Allah sebagai tempat tinggal dan penghidupan bagi manusia. Tetapi jangan kamu tinggal dan hidup dibumi dengan membuat kerusakan. Oleh karena itu Allah wariskan bumi ini untuk diollah (dimakmurkan) oleh hamba-hamba Allah yang shaleh dalam bentuk sistem pemerintahan Islam (khilafah).

Firman Allah:“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di BUMI untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “(QS. 2:29) Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka BUMI. Mereka berkata:Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di BUMI itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Rabb berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:30).

Memang kekuasaan akan cenderung kepada kerusakan dan pertumpahan darah, kecuali kekuasaan yang berdasar Ilmu (hukum Allah). Makanya Allah Al-Aliem kemudian mengajari Adam dengan wahyunya, tentu agar Adam AS kelak berkuasa dibumi dengan menerapkan syari’ah. Kekuasaan yang menerapkan syari’ah sebagai hukum inilah yang disebut Khilafah.

Atau seperti firman Allah kepada Daud AS sebagai Penguasa baru dimesir. “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka BUMI, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. 38:26).

Allah berjanji bahwa pasti akan tegaknya kekuasaan islam (khilafah), dan jika tegak akan terjamin 3 hal (24:55):
1. Dinul Islam tegak
2. Tercipta rasa aman (keadilan, ketentraman, kedamaian, ketertiban dll)
3. Bebas beribadah kepada Allah tanpa ada kekuatan yang memaksa musyrik

Wallahu a’lam bishawab.

selengkapnya →

ETIKA BERPAKAIAN BAGI WANITA ISLAM

0 komentar



ALLAH SWT MENGHENDAKI AGAR WANITA ISLAM BERPAKAIAN SESUAI DENGAN FUNGSINYA, YAITU FUNGSI PAKAIAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH SWT




Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithon sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan kedua pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan syaithon-syaithon itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”(QS.Al A’raaf,7:26-27)

::: FUNGSI PAKAIAN :::
Dalam QS Al-A’raf ayat 26-27 nampak disitu ada 3 fungsi pakaian:
1. Sebagai penutup aurat
2. Sebagai pelindung dan penghias tubuh
3. Sebagai pakaian ketaqwaan
Allah SWT menghendaki agar pakaian yang dikenakan kaum muslimah adlah pakaian yang beradab. Yaitu pakaian yang memenuhi ketiga fungsinya.

:: [1] Sebagai penutup aurat
:: 1 ~ Aurat adalah bagian dari tubuhmu yang harus ditutupi . Ibnu Mahram berkata: Saya membawa batu yang berat dan saya membawanya hingga terengah-engah sampai-sampai pakaian saya terbuka dan saya tidak dapat menutupinya, lalu saya membawa batu tersebut hingga ke suatu tempat dimana saya menurunkannya, Rosulullah saw. Bersabda :”Kembalilah dan bawa batu itu tapi jangan berjalan dengan telanjang”. (Muslim 341, Abu Dawud 4016)


:: 2~ Allah berfirman agar kaum wanita mengenakan Jilbab (pakaian yang menutup auratnya): “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mumin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 33:59)

:: 3 ~ Allah berfirman agar kaum wanita mengulurkan kerudungnya hingga menutupi leher dan dadanya, jangan sampai , pakaian wanita itu tidak menutup rapat anggota tubuh yang semestinya ditutup: Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

:: 4 ~ Adapun aurat wanita itu adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:"Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini," sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

::5 ~ Termasuk membuka auratnya jika wanita itu memakai baju tipis / transparan dan atau ketat membentuk tubuh. Sebab baju tipis atau ketat :”membentuk tubuh”, sama dengan berpakaian tapi telanjang. Rasulullah bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim).
Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).


Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu
tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).

:: [2] Sebagai pelindung badan dan penghias tubuh
:: 1 ~ Dalam QS Al-A’raf dikatakan bahwa fungsi kedua pakaian itu adalah “Riesyan”. Riesy adalah bulu pada burung. Bulu pada burung memiliki fungsi sebagai pelintung dan juga penghias tubuhnya.

::2 ~ Rasulullah SAW menghendaki agar memakai pakaian yang baru (baik dan indah) yang dia punya. Dalam salah satu riwayat disebutkan: “ Saya datang kepada Rosulullah saw. dengan mengenakan pakaian yang lama, Beliau bersabda, : ”Apakah kamu memiliki harta dan uang?”Dia menjawab,”Ya” Beliau saw. bertanya,”Apakah macam dari hartamu itu?” Dia menjawab,”Allah swt. telah memberikan kepadaku unta-unta, kambing, kuda dan hamba sahaya”.”Jika Allah telah memberikan itu, maka perlihatkanlah, kebaikan-kebaikan itu supaya dapat dilihat oleh Allah dan orang-orang yang melihatnya”.(Abu Dawud 4063), Albaani 5457, Musnad Imam Ahmad 15223).


::3 ~ Allah menghendaki agar mengenakan pakaian yang indah yang dipunyai. Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid”.(QS.Al A’raaf,7:31)
:: 4 ~ tetapi, walaupun mengenakan pakaian indah, tetapi tetaplah menghindari berpakaian yang menyolok , yang dengannya akan mengundang fitnah kaum lelaki “hidung belang”. Rosulullah saw. Bersabda : ”Siapa saja yang mengenakan pakaian yang membikin heboh di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian yang menghinakan kelak di hari kiamat”.(Musnad Imam Ahmad 5631, Abu Dawud 4029)


:: 5 ~ Walaupun hendak memakai pakaian yang indah, tetapi rasulullah melarang pakaian tersebut menyerupai laki laki. Rasulullah melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita
yang bertingkah laku seperti laki-laki (HR,Abu Dawud,Ahmad).

:: 6 ~ Hendaklah pula erpakaian indah tanpa bermaksud sombong. Abu Hurairah meriwayatkan, Rosulullah saw. bersabda, : ”Seseorang yang berjalan dengan berpakaian secara sombong dimuka bumi ini maka Allah tidak akan melihatnya di hari pengadilan kelak”.(Bukhori 5788, Muslim 2087, Musnad Imam Ahmad 8778).

:: [2] Sebagai Pakaian taqwa
:: 1 ~ Walaupun sudah menutupi auratnya dan melindungi serta menghiasi tubuh, tetapsaja belum cukup memenuhi fungsi pakaian menurut Allah, jika tidak berpakaian taqwa

:: 2 ~ Berpakaian taqwa artinya, wanita Islam mesti memiliki jiwa taqwa. Yaitu jiwa yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Sebab menjadi kurang bermakna jika wanita Islam yang lengkap berpakaian rapih, indah dan menutupi aurat tetapi , mata, telinga, mulut dan hatinya tidak dijaga dari perbuatan dosa.


Wallahu a’lam Bishowab

By: Fitnusa

selengkapnya →

JAHILIYYAH MODERN (2)

0 komentar

JAHILIYYAH bukan suatu masa kegelapan dimasa lalu. Tetapi suatu masa kegelapan dimana saja selama sistem sosial manusia tidak didasarkan kepada CAHAYA ALLAH
“Jahiliyyah” , bukan hanya milik kaum pada masa Nabi Muhammad saja, tetapi Jahiliyyah ini adalah istilah bagi suatu kondisi yang jauh dari “cahaya” Allah, kapanpun dan dimanapun. Menurut Ibnu Taimiyah seperti yg dikutip oleh Muhammad Qutb jahl itu bermakna “Tidak memiliki atau tidak mengikuti ilmu.” Karena itu orang yg tidak memiliki pengetahuan tentang yg haq adl jahil apalagi kalau tidak mengikuti yg haq itu. Atau tahu yg haq tapi perilakunya bertentangan dgn yg haq meskipun dia sadar atau paham bahwa apa yg dilakukannya memang bertentangan dgn yg haq itu sendiri.

Ada 4 karakter kejahiliyyahan:

YANG PERTAMA:
DZHANNAL JAHILIYYAH (PRASANGKA JAHILIYYAH) 3:154

sekulerisme

Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhdadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata:" Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini? "Katakanlah:" Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah ". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata:" Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini ". Katakanlah:" Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh ". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
QS. Ali Imran (3) : 154

(penjelasan QS 3:154)
Kekalahan dalam perang Uhud menjadi sarana dan kesempatan emas bagi Munafiqin (infiltran dan oportunis) dalam tubuh ummat Islam untuk menebar propaganda sesatnya. Mereka menuduh (dzhan) yang jelek kepada Allah (Dzhan Suu); bahwa perang yang dipimpin Allah dan RasulNya (hasilnya) kalah… jangan-jangan ekonomi juga, jika berdasar kepada Allah dan Rasulnya tidak akan mencapai kemakmuran… begitu pula dalam politik, social, budaya, pendidikan, kesenian, hankam dan lain-lain.

Mereka berprasangka bahwa Allah tidak sanggup mengurus kehidupan manusia (POLEKSOSBUDMILKAM). Oleh karena itu mereka berkata kepada Rasul: “adakah sebagian urusan yang bisa kami urus sendiri” (Hal Lanaa minal Amri Min Syai’in?). Disinilah propaganda sekuler digencarkan kaum oportunis.

Mereka ingin berbagi dengan Allah. Allah mengurus sebagian urusan hidupnya (ritual) sementara mereka (manusia) juga diberikan hak mengatur sebagian kehidupannya (poleksosbudmilkam).

Propaganda mereka dijawab paten oleh Allah: “Katakanlah (Muhammad) kepada mereka: Seluruh Urusan itu semuanya hak allah mengaturnya” (Qul Innal Amra Kullahu Lillah).

Keinginan untuk memisahkan sebagian kehidupan manusia dari pimpinan Allah dan Rasulnya (sekulerisme) inilah yang oleh Allah kemudian disebut dengan istilah: “Dzhannal Jahiliyyah” (prasangka Jahiliyyah).
----------------------------
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan idiologi sekulerisme ini adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KEDUA:
HUKUM JAHILIYYAH [5:50]


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
QS. al-Mai'dah (5) : 50

Sudah bisa dipastikan jika idiologi suatu negeri, adalah idiologi hasil perasan pikiran manusia seperti sekulerisme, maka akan menerapkan hukum (tata aturan) produk pikiran manusia dan menyingkirkan hukum yang bersumber dari wahyu [10:35-36].

Padahal Allah SWT menyatakan bahwa “barangsiapa yang menetapkan hokum tidak berdasar kepada hokum Allah, maka dia itu Kafir, dzalim dan fasiq” [5:44-45-47]. Kenapa?. Karena menetapkan hokum itu hanyalah hak Allah SWT [6:57, 12:40].

Itulah hukum Jahiliyyah.
-------------------------
Negri manapun dan kapanpun yang menerapkan hukum yang tidak bersumber dari wahyu, adalah negeri yang “jahiliyyah”

YANG KTIGA:
TABARUJ JAHILIYYAH [5:50]


dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu ...,
(QS. aL-aHZAB 33:33)

Tabaruj Jahiliyyah adalah kejahiliyyahan dalam aspek budaya (Budaya Jahiliyyah). Seperti para Istri Rasul (dalam QS 33;33) diatas dilarang mengikuti tradisi Jahiliyyah dalam bersolek. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a., dari Nabi saw.bersabda, "Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang biawak, [1] niscaya kalian akan mengikutinya juga." Para Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah menjawab, "Kalau bukan mereka, siapa lagi?"(Bukhari [3456] dan Muslim [2669])

Tradisi Jahiliyyah adalah tradisi bangsa yang berporos pada "ABAANAA" , menerima apa yang sudah ditetapkan oleh "The Founding Father", walaupun apa yang sudah mereka tetapjkan itu tidak berdasar Ilmu dan petunjuk Allah SWT. Firman Allah : "Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?"(QS. 5:104)


itulah budaya jahiliyyah
--------------------------
---
suatu negri yang tetap mempertahankan ide dasar negrinya berdasar apa yang telah ditetapkan oleh para "the Founding Father", walaupun ide dasar tersebut tidak berdasar ilmu Allah adalah negri yang kjahiliyyah.

YANG KEEMPAT :
HAMIYYAH JAHILIYYAH [5:50]


Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mumin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48:26)

Ayat ini turun berkenaan dengan perjanjian hudaibiyyah. Pada sa’at perjanjian Hudaibiyah, kaum Musyrikien tidak mau menerima tulisan Bismillah dan Muhammad Rasulullah dalam teks perjanjian itu. Mereka bersikeras bahwa bila mereka menerima tulisan itu tentu saja mereka tidak akan memerangi Rasul dan pengikutnya sebab tulisan tersebut merupa-kan pengakuan risalah Muhammad. Mereka bersikeras membela simbol simbol jahiliyyah demi keangkuhannya. Semangat Membela Lambang, simbol dan nilai nilai jahiliyyah inilah disebut HAMMIYYAH JAHILIYYAH atau Semanagt Nasionalisme.

selengkapnya →

LANDASAN HAQ DAN BATHIL

0 komentar

Al-Haq (kebenaran sejati) tentusaja bersumber dari Allah SWT Yang menciptakan segala sesuatu [16:36, 35:3]. Sementara Al-bathil (kebatilan) bersumber dari makhluq (yang diciptakan).

Karena Al-Haq (kebenaran) bersumber dari Allah Al-Khaliq, maka rujukannya (refferensinya) adalah wahyu Allah SWT, yaitu Al-QuR’AN . Firman Allah SWT: “Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).” (QS. 2:176) . Suatu premise, teori, kesimpulan dan pemahaman yang dirujuk dari Al-qur’an (dan hadis shohieh), maka itu adalah pemahaman yang haq.

Sementara itu, kebatilan (al-bathil), sebagai lawan al-haq, menyandarkan rujukannya kepada Ra’yu (prasangka manusia). Dimana ra’yu ini memiliki beberapa sumber, diantaranya:

1. Hawa nafsu [23:71, 25:43, 38:26].

Mislanya: “PERANG” melawan kaum kafirin, menurut wahyu Allah adalah wajib , tetapi hawa nafsu manusia memandang itu sebagai perkara yang “tidak baik” bahkan “tidak benar”, dengan dalih apapun [2:217] . Pandangan tersebut adalah bathil, karena sumbernya hawa nafsu. Padahal yang Haq (benar) adalah “perang” melawan kaum kafir itu wajib, bahkan sangat dicintai Allah [61:4].

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)

2. Suara terbanyak / opini publik [ 6:116].

Misalnya : hukum wanita menjadi kepala Negara. Menurut wahyu adalah haram (tidak boleh) karena Allah berfirman: “Kaum laki-laki itu ADALAH PEMIMPIN bagi kaum wanita…[4:34}”. Rasulullah SAW bersabda: Lan yuflihal qaumun wallau amrahum imroatan (“tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan”).

Tetapi dalam system demokrasi, tidak peduli apakah Halal atau haram menurut Allah, yang penting suara terbanyak menginginkan wanita jadi kepala Negara, maka wanita jadi kepala Negara adalah sah.

Tentu saja pandangan dari system demokrasi adalah Bathil, karena menentukan benar-salah serta baik-buruknya tidak berdasarkan Qur’an dan hadis yang shahih, tetapi berdasar kesepakatan atau keinginan mayoritas manusia.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. 6:116)

3. Dzhan (persangkaan) [10:36]

Misalnya pandangan kaum PLURALISME, yang memandang bahwa semua agama adalah sama, karena berdasarkan prasangkanya: semua agama juga menuju Tuhan dan mengajarkan kebaikan. Atau pandangan mereka bahwa laki-laki dan wanita itu sama-sama makhluq Tuhan, karena itu jika laki-laki boleh polygamy maka wanita boleh polyandry. Atau pandangan mereka bahwa baik laki maupun wanita bebas menikah (berhubungan badan) baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sejenisnya.

Pandangan kaum PLURALISME ini adalah bathil, karena memreka menentukan benar-salah dan baik buruknya hanya berdasarkan prasangka pikiran mereka semata. Bukan bersumber dari wahyu Allah.

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. 10:36)

4. Adat istiadat / Tradisi nenek moyang [5:104]

Misalnya pandangan yang menganggap wajar atau bahkan benar perilaku perilaku berbau khurafat atau takhayul. Seperti memberi sesajian bagi Nyi Rorokidul. Jelas ini adalah pandangan / perilaku yang batil, karena sandarannya bukan wahyu tetapi tradisi.

Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab: Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (QS. 5:104)

selengkapnya →

Copyright 2011© MILITANSI CERDAS
Sponsored by Blogger